Senin, 15 April 2013

Rambu-rambu Dalam Pembelajaran Pkn SD



Makalah
 Rambu-rambu Dalam Pembelajaran Pkn SD



Disusun Oleh :
          (Kelompok 6, Kelas 12 H)
*    IRVAN ZAINUDDIN (15)
*    IKA RISMA
*    ANDI NURFITA SARI




Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan

Kata Pengantar

            Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah berjudul “Rambu-rambu dalam Pembelajaran Pkn”. Kemudian shalawat beserta salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah memberikan pedoman hidup yakni al-qur’an dan sunnah untuk keselamatan umat di dunia.

            Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada segenap pihak, termasuk penulis artikel-artikel dimana beberapa tulisan anda kami muat dalam makalah ini.

            Akhirnya kami  menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan-kekurangan dalam penulisan makalah ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.



Makassar,     April 2013




Penulis











Daftar Isi

BAB I
Pendahuluan

A.   Latar Belakang............................................................................
B.   Rumusan Masalah............................................................................
C.   Tujuan ..........................................................................................

BAB II
Pembahasan

A.   Penanaman nilai-nilai pancasila sejak dini.................................
B.   Prisip-prinsip Pkn SD...................................................................
C.   Dasar Pertimbangan.....................................................................
BAB III
Penutup

A.   Kesimpulan...................................................................................
B.   Saran.............................................................................................

Dafatr Pustaka

BAB I
Pendahuluan

A.   Latar Belakang

            Dalam melaksanakan pembelajaran PKn di Sekolah Dasar, guru perlu mengetahui rambu-rambu dalam pembelajaran serta mengembangkan  startegi/taktik yang tepat,  dengan pendekatan-pendekatan dan mode-model belajar yang akan diterapkan serta didukung oleh metode dan media yang efektif. Hal ini akan membantu guru dalam memahami dan membantu siswa untuk berlatih mengamalkan nilai moral Pancasila dan budi pekerti yang dipelajari di sekolah.
                 Sekarang ini banyak pelajar-pelajar dan generasi muda yang moralnya rusak karena berbagai hal yang mempengaruhi mereka mulai dari teman bergaul, media elektronik yang semain canggih, narkoba, minuman keras, dan hal-hal negatif lain yang dapat mempengaruhi mereka. Untuk membentuk generasi bangsa yang bermoral dan berkualitas tentunya memerlukan beberapa proses dalam penciptaanya. Salah satunya dengan membekali peserta didik (khususnya siswa SD) dengan nilai-niali luhur yang terkandung dalam Pancasila
            Untuk itu pendidik generasi  muda perlu memahami serta menerapkan perilaku yang patut dicontoh oleh murid, termasuk dalam penerapan prinsip-prinsip dalam pembelajaran. Agar terciptanya kualitas pemebelajaran yang baik. Dalam hal ini peningkatan kualitas belajar mengajar merupakan suatu keniscayaan yang harus diwujudkan oleh guru.Kualitas belajar mengajar yang baik akan mendorong tercapainya hasil belajar yang memadai dan bermakna bagi siswa.
             
           
B.   Rumusan Masalah

-       Bagaimanakah cara menerapkan nilai moral Pancasila sejak usia dini ?

-       Prinsip-prinsip  apa saja yang perlu diterapkan untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar ?

-       Apa saja dasar pertimbangan penilaian dalam pembelajaran ?

C.   Tujuan

-       Mengetahui serta menerapkan nilai dan moral Pancasila sejak usia dini.

-       Memahami serta menerapkan prinsip-prinsip dalam pembelajaran.

-       Mengetahui dasar-dasar pertimbangan penilaian dan indikator hasil belajar.











BAB II
Pembahasan

A.   Penanaman Nilai Moral Pancasila Sejak Dini

Menurut kajian Psikologi Umum, usia anak yang paling efektif dalam melakukan pendidikan dan menanamkan karakter tertentu adalah usia enam sampai sepuluh tahun atau setara dengan usia anak siswa Sekolah Dasar.  Dalam rentan usia tersebut setiap pengalaman dan kejadian-kejadian yang pernah dialaminya akan menentukan bagaimana perkembangan si anak selanjutnya atau dapat dikataan usia tersebut adalah fondasi bagi masa depan anak. Apabila fondasi yang ditanam pada si anak adalah karakter-karater yang baik maka secara otomatis karakter-karater itu akan tetap melekat dalam diri anak dalam setiap proses pendewasaanya.
          Misalnya, sejak SD seorang anak telah dilatih oleh gurunya untuk datang tepat waktu setiap akan masuk kelas. Secara tidak langsung perintah  guru tersebut telah mendidik anak untuk bersikap disiplin dalam mengawali setiap kegiatan tanpa menunda-nunda waktu. Nah, kebiasaan seperti ini pasti akan selalu teringat dalam benak si anak dan selalu akan dijalankannya karena sudah menjadi kebiasaan. Lalu bagaimana cara-cara yang efektif agar seluruh nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila itu dapat ditanamkan dan diamalkan oleh siswa Sekolah Dasar, sebagai awal pembentukan karakter mereka?


1.     Melalui pelajaran, Pendidikan Kewarganegaraan atau Pendidikan Pancasila
          Melalui mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan atau Pendidikan Pancasila diharapkan peserta didik memperoleh pengetahuan tentang apa itu Pancasila, apa saja nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila dan apa saja manfaat mengamalkan nilai-nilai Pancasila,yang dalam penyampaiannya disesuaikan dengan kemampuan mereka. Sehingga mereka tidak bingung dan mempunyai gambaran untuk melaksanakannya.
2.    Nasihat Guru kepada murid
          Kebanyakan orang setelah mereka mendengarkan nasihat atau ceramah mereka akan memperoleh ilmu dan pengetahuan baru atau koreksi-koreksi yang mungkin ia dapatkan karena nasihat atau ceramah itu menyingung perbuatan-perbuatan tercela yang mungkin pernah ia lakukan. Dengan nasihat orang yang dulu kurang baik bisa berubah menjadi baik karena nasihat yang ia terima dari orang lain berupa saran-saran untuk menjadi lebih baik. Begitu juga dengan anak usia SD, mereka dapat dipengaruhi dengan nasihat-nasihat yang baik dan membangun dan sejalan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam tiap-tiap butir Pancasila guna memberikan pedoman berperilaku dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan mereka dan dalam penyampaian nasihat tersebut harus disesuaikan dengan kemampuan yang dinasehati.
3.    Memberikan contoh sikap-sikap yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila
          Seorang guru harus berperilaku selakyaknya seorang pendidik yang berkepribadian baik, karena setiap perilaku yang ia lakukan kemungkinan 95% akan dicontoh oleh muridnya. Sebab disekolah tingkat Sekolah Dasar guru merupakan salah satu tokoh yang sangat berpengaruh selain kedua orang tuanya. Siswa akan cenderung meniru dan melaksanakan perkataan guru dariada orang tuannya. Semisal, orang tua menyuruh anaknya untuk sikat gigi dua kali sehari, si anak pasti belum mau melakukannya jika guru belum pernah mengajarkannya disekolah.
          Dengan keadaan yang demikian itu guru bisa dimanfaatkan untuk memberikan pendidikan nilai-nilai Pancasila, misalnya :
· Guru datang kesekolah datang tepat waktu, agar siswa-siswanya meniru kebiasaannya tersebut
·    Guru selalu berkata jujur kepada muridnya agar mereka juga memiliki sikap yang demikian itu
·    Guru membiasakan berjabat tangan bila bertemu orang lain baik sesama guru maupun dengan muridnya, agar murid memiliki sikap sopan santun
·    Guru membiasakan berbicara lemah lembut dengan muridnya maupun dengan orang lain agar siswa memiliki sikap hormat menghormati yang tinggi
·    Dsb
4.    Menanamkan sikap disiplin terhadap siswa melauli berbagai cara
          Sikap disiplin sangat penting dalam melakukan berbagai aktifitas agar semua aktifitas bisa berjalan dengan lancar dan tepat. Bayangkan saja jika semua manusia didunia ini tidak memiliki sikap disiplin entah disiplin dalam lingkup kecil maupun disiplin dalam lingkup besar. Contoh kecil saja, seseorang tidak bisa disiplin terhadap waktu, tidak pernah datang tepat waktu apabila diundang dalam sebuah acara otomatis acara itu akan berantakan karena tidak sesuai dengan rencana yang telah dibuat.
          Mengingat keadaan yang demikian, sejak dini siswa SD harus dilatih disiplin agar kebiasaan berdisiplin tersebut melekat pada dirinya dan diamalkan smapi ia dewasa nanti. Misalnya siswa diarahkan untuk selalu tertib dalam berpakaian seragam, bersepatu,berpennampilan rapi datang kesekolah tepat waktu dan sebagainya.


5.    Melatih siswa untuk rajin beribadah
          Beribadah erat kaitannya dengan kepercayaan dan agama masing-masing siswa karena setiap siswa memiliki latar belakang agama yang berbeda. Berhubungan dengan nilai-nilai Ketuhanan yang terdapat dalam sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Dimana nilai-nilai Ketuhanan ini menjadi fondasi dasar manusia dalam menjalankan kehidupannya, sehingga setiap siswa harus benar-benar menjiwai nilai Ketuhanan ini. Untuk itu siswa dapat dilatih dan diarahak agar selalu rajin dalam menjalankan ibadah dalam agam mereka masing-masing dengan cara-cara yang sederhana dan menarik. Misalnya, diadakan Jumatan disekolah, mengaji bersama, pesantren kilat, diadakan kajian rutin oleh guru agama masing-masing, melakukan solat berjamaah disekolah dan masih banyak cara-cara yang dapat dilakukan untuk membina siswa dalam melakukan ibadah.
          Tidak lepas dari itu semua, siswa juga diarahkan untuk selalu melihat alam semesta yang luas ini dan bersama-sama mendiskusikan bagaimana bisa alam semesta ini terjadi dan kejadian-kejadian alam yang menarik didiskusikan agar mereka percaya akan keberadaan Tuhan Sang Pencipta alam semesta.
6.    Siswa diajak dan dilatih untuk menbudayakan 3S
          Dengan membudayakan 3S (Senyum, Salam, Sapa) kepada siswa dan sesama guru maka akan tercipta suasana yang nyaman dan kondusif. Secara tidak langsung dengan budaya 3S ini siswa bersama guru belajar saling menghormati dan dan bersama-sama mengamalkan nilai-nilai Pancasila terutama nilai Kemanisiaan.
Pentingnya Penerapan Nilai-Nilai Pancasila Bagi Anak SD
     Sekarang ini banyak pelajar-pelajar dan generasi muda yang moralnya rusak karena berbagai hal yang mempengaruhi mereka mulai dari teman bergaul, media elektronik yang semain canggih, narkoba, minuman keras, dan hal-hal negatif lain yang dapat mempengaruhi mereka. Mereka juga gemar melakukan tindak-tindak kriminal, apalagi yang namanya, seakan-akan itu sudah menjadi kebudayaan bagi pelajar Indonesia. Keadaan yang demikian itu sangat memprihatinkan dan perlu perhatian khusus karena mereka adalah generasi penerus bangsa yang akan meneruskan perjuangan-perjuangan generasi tua membangun bangsa Indonesia ini. Tapi apa jadinya jika sebelum tiba waktu mereka untuk turut serta dalam pembangunan bangsa ini, akhlak dan moral mereka sudah bobrok dan rusak. Mungkinkah Indonesia kita akan maju jika generasi penerusnya tak bermoral? Tentu tidak. Untuk itu perlu pembenahan-pembenahan agar denerasi penerus yang mendatang memiliki akhlak dan moral yang baik.
            Siswa Sekolah Dasar merupakan cikal bakal tumbuhnaya generasi-generasi untuk masa mendatang. Untuk itu agar menjadi generasi penerus bangsa yang bermoral dan berakhlak baik perlu dilakukan pendidikan yang benar-benar matang dan serius, jika perlu proses pendidikan dialkukan oleh para sarjana yang ber kompeten.
            Untuk membentuk generasi bangsa yang bermoral dan berkualitas tentunya memerlukan beberapa proses dalam penciptaanya. Salah satunya dengan membekali peserta didik (khususnya siswa SD) dengan nilai-niali luhur yang terkandung dalam Pancasila sebab Pancasila merupakan Dasar Negara dan Pandangan Hidup Bangsa dalam menjalankan kehidupannya. Para siswa harus memahami, memaknai dan mengamalkan keseluruhan nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila karena nilai-nilai itu dapat menjadi fondasi dan benteng bagi mereka dari berbagai pengaruh yang dapat merusak moral mereka.
             Nilai-nilai Pancasila juga mampu berperan dalam pembentukan karakter anak usia SD karena didalam Pancasila sendiri terdapat nilai-nilai yang mudah dipahami dan diamalkan pada anak usia SD. Misalnya nilai kerakyatan/Demokrasi, ini dapat dilakukan siswa dengan maju kedepan kelas untuk mengutarakn  jawaban atas tugas yang telah diberikan guru. Apabila keseluruhan nilai-nilai Pancasila itu bisa dilaksanakan dengan baik maka secara bertahap kepribadian dan karakter anak akan terbentuk seiring dengan berjalannya waktu.

B.   Prinsip-prinsip Pkn SD

Pembelajaran pada dasarnya merupakan kegiatan guru atau dosen dalam menciptakan suasana atau situasi siswa belajar.Tujuan utama pembelajaran adalah agar siswa belajar.Sukmadinata (2007) mengatakan bahwa belajar merupakan proses mental yang dinyatakan dalam berbagai perilaku,baik perilaku fisik-motorik maupun psikis.Meskipun suatu kegiatan belajar merupakan kegiatan fisik-motorik (keterampilan),tetapi didalamnya terdapat kegiatan mental, namun kegiatan pisik-motoriknya lebih banyak dibandingkan dengan proses mentalnya.Pada kegiatan belajar yang bersifat psikis, seperti belajar intelektual, sosial-emosi, sikap, perasaan, nilai, segi fisik-motoriknya sedikit, sedangkan segi psikis atau mentalnya lebih banyak.Aspek-aspek perkembangan tersebut, biasa dibeda-bedakan tetapi tidak bisa dipisah-pisahkan secara jelas.Suatu aspek selalu ada kaitannya dengan aspek yang lainnya.
Peningkatan kualitas belajar mengajar merupakan suatu keniscayaan yang harus diwujudkan oleh guru.Kualitas belajar mengajar yang baik akan mendorong tercapainya hasil belajar yang memadai dan bermakna bagi siswa. Dalam konteks ini perlu diketahui dan dipahami oleh guru adanya sejumlah prinsip pembelajaran yaitu (a) perhatian dan motivasi; (b) keaktifan; (c) keterlibatan langsung; (d) pengulangan; (e) tantangan; (f) balikan dan penguatan, dan (g) perbedaan individual.

Prinsip perhatian dan motivasi
Perhatian, dalam konteks pembelajaran memiliki peranan yang sangat penting sebagai langkah awal dalam memicu aktifitas-aktifitas belajar. Sedangkan motivasi berhubungan erat dengan minat. Motivasi dalam belajar merupakan hal yang sangat penting dalam pelaksanaan model pembelajaran. Motivasi belajar akan timbul lebih tinggi manakala siswa memiliki perhatian yang tinggi dalam kegiatan belajar. Sebaliknya motivasi siswa akan rendah manakala siswa kurang memiliki perhatian dalam kegiatan belajar.

Prinsip keaktifan
Belajar pada hakekatnya adalah proses aktif dimana seseorang melakukan kegiatan secara sadar untuk mengubah suatu perilaku, terjadi kegiatan merespon terhadap setiap pembelajaran.
Prinsip keterlibatan langsung
Setiap individu harus terlibat langsung untuk mengalaminya,bahwa setiap kegiatan belajar harus melibatkan diri setiap individu

Prinsip Tantangan
Pembelejaran harus memberikan kesempatan yang luas bagi siswa untuk mencari dan menemukan konsep, teori, generalisasi, serta dalil dalam kegiatan pembelajaran. Dengan akses seperti itu, siswa akan tertantang untuk menemukan konsep, teori, generalisasi, dan dalil-dalil tersebut.
Prinsip balikan
Siswa akan belajar lebih semangat dan giat jika mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik. Hasil belajar yang baik, tentu saja bagi siswa merupakan balikan yang menyenangkan sehingga akan semakin menopang semangat belajar siswa.

Prinsip perbedaan individual
Setiap individu memiliki perbedaan baik secara psikis maupun fisik-motorik, karena penting bagi guru untuk memahami perbedaan-perbedaan tersebut.

C.   Dasar Pertimbangan
Pertimbangan atau judging adalah proses menilai dan mempertimbangkan yang tidak lepas dari nalar ( reasoning).
Penilaian adalah suatu kegiatan untuk mengetahui hasi belajar peserta didik dan mengetahui keberhasilan peserta didik dalam proses pembelajaran. Menurut Davies (1981), pengertian penilaian mengacu pada proses yang menetapkan nilai kepada sejumlah tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk-kerja, proses, orang dan objek. Suatu proses pengukuran dalam kegiatan pembelajaran dapat melalui proses membandingkan dengan kriteria yang telah ditentukan oleh guru. Penilaian dalam pembelajaran merupakan pembuatan keputusan nilai keberhasilan didalam suatu pembelajaran melalui pembandingan dengan ketentuan yang berlaku. Penilaian juga merupakan suatu pengukuran keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar. Karena suatu keberhasilan peserta didik juga merupakan keberhasilan guru dalam mentransfer ilmu dengan melalui proses pembelajaran yang didalamnya terdapat ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam proses penilaian antar individu maupun kelompok.
Dalam pedoman penilaian Depdikbud (1994), menyatakan bahwa tujuan penilaian adalah untuk mengetahui kemajuan belajar siswa, untuk perbaikan dan peningkatan kegiatan belajar siswa serta sekaligus memberikan umpan balik bagi perbaikan pelaksanaan kegiatan belajar. Dengan mengetahui kemajuan belajar peserta didik dengan cara melakukan perbandingan melalui ketentuan-ketentuan,  maka kemampuan individu peserta didik dapat terukur dan guru dapat mengetahui titik kelemahan dan kelebiahan peserta didik dalam proses pembelajaran. Sehingga dapat memberikan pengajaran dan remidiasi untuk memenuhi kebutuhan perseta didik sesuai dengan kemajuan dan kemampuannya.
Indikator hasil belajar
Indikator hasil belajar merupakan tolok ukur keberhasilan atau tujuan apa yang akan dicapai dalam suatu pembelajaran. Untuk mengetahui apakah pembelajaran yang diberikan kepada siswa berhasil, terlebih dahulu ditetapkan kriteria keberhasilan pengajaran. Mengingat pengajaran merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan, maka disini dapat ditentukan dua kriteria yang bersifat umum. Menurut Sudjana (2004) kedua kriteria tersebut adalah:
1.      Kriteria ditinjau dari sudut prosesnya
Kriteria ditinjau dari prosesnya menelkankan kepada pengajaran sebagai suatu proses yang merupakan interaksi dinamis sehingga siswa sebagai subjek mampu mengembangkkan potensinya dengan belajar sendiri.


2.      Kriteria ditinjau dari hasilnya
Disamping tinjauan dari segi proses, keberhasilan pengajaran dapat dilihat dari segi hasil.

Pengembangan penilaian hasil belajar PKn SD
      Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Bloom ,yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik.
      Ranah kognitif berkenaan denga hasil belajar intelektual yang tediri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
      Ranah afektif berkenaan sikap yang terdiri dari lima aspek , yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi.
      Ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Terdapat enam aspek ranah psikomotoris, yakni: gerakan reflex, keterampilan gerakan dasar,  kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan komplek dan gerakan ekspresif.














BAB III
Penutup


A.   Kesimpulan

      Penanaman dan penerapan nilai-nilai Pancasila pada usia dini (khususnya siswa SD) sangat penting dan diperlukan dalam membentuk kepribadian generasi bangsa yang berkarakter dan bermoral serta mampu bersaing dalam segala bidang

Selain itu kualitas belajar mengajar yang baik akan mendorong tercapainya hasil belajar yang memadai dan memakna bagi siswa. Dalam konteks inilah perlu diketahui dan dipahami oleh guru adanya sejumlah prinsip pembelajaran yaitu perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung, pengulangan, tantangan, balikan ,  penguatan, dan perbedaan individu serta  menggunakan pertimbangan-pertimbangan dalam penilaian.

B.   Saran

-       Sebagai calon pendidik di Sekolah Dasar yang akan mencetak generasi-generasi baru sebaiknya kita senantiasa memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

-       Berikan contoh yang baik, sikap yang mencerminan nilai-nilai Pancasila kepada teman-teman maupun siswa bila kelak sudah menjadi seorang guru.


















Daftar Pustaka

Imasmaesaroh (2010). Pendekatan dan metode model pembelajaran pkn sd. From http://imasmaesaroh.blogspot.com
Yoko (2012). Penerapan nilai-nilai pancasila pada siswa sekolah dasar. "http://ichbinyokko.blogspot.com
mardani Kusuma (2011).Pendidikan anak usia dini. Yogyakarta : stimik aikom.
Dwi Siswoyo dkk. 2005. Metode Pengembangan Moral Anak Prasekolah. Yogyakarta: FIP UNY.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar