Makalah
Rambu-rambu Dalam Pembelajaran Pkn SD
Disusun
Oleh :
(Kelompok 6, Kelas 12 H)
(Kelompok 6, Kelas 12 H)
Pendidikan
Guru Sekolah Dasar
Fakultas
Keguruan Ilmu Pendidikan
Kata
Pengantar
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah berjudul “Rambu-rambu dalam
Pembelajaran Pkn”. Kemudian shalawat
beserta salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah
memberikan pedoman hidup yakni al-qur’an dan sunnah untuk keselamatan umat di
dunia.
Kami mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada segenap pihak, termasuk penulis artikel-artikel dimana
beberapa tulisan anda kami muat dalam makalah ini.
Akhirnya kami menyadari bahwa banyak terdapat
kekurangan-kekurangan dalam penulisan makalah ini, maka dari itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.
Makassar, April 2013
Penulis
Daftar Isi
BAB I
Pendahuluan
A.
Latar Belakang............................................................................
B.
Rumusan Masalah............................................................................
C.
Tujuan ..........................................................................................
BAB II
Pembahasan
A.
Penanaman
nilai-nilai pancasila sejak dini.................................
B.
Prisip-prinsip
Pkn SD...................................................................
C.
Dasar
Pertimbangan.....................................................................
BAB III
Penutup
A.
Kesimpulan...................................................................................
B.
Saran.............................................................................................
Dafatr
Pustaka
BAB
I
Pendahuluan
A.
Latar Belakang
Dalam melaksanakan pembelajaran PKn di Sekolah Dasar,
guru perlu mengetahui rambu-rambu dalam pembelajaran serta mengembangkan startegi/taktik yang tepat, dengan pendekatan-pendekatan dan mode-model
belajar yang akan diterapkan serta didukung oleh metode dan media yang efektif.
Hal ini akan membantu guru dalam memahami dan membantu siswa untuk berlatih
mengamalkan nilai moral Pancasila dan budi pekerti yang dipelajari di sekolah.
Sekarang ini banyak
pelajar-pelajar dan generasi muda yang moralnya rusak karena berbagai hal yang
mempengaruhi mereka mulai dari teman bergaul, media elektronik yang semain canggih,
narkoba, minuman keras, dan hal-hal negatif lain yang dapat mempengaruhi mereka.
Untuk membentuk generasi bangsa yang bermoral dan berkualitas tentunya
memerlukan beberapa proses dalam penciptaanya. Salah satunya dengan membekali
peserta didik (khususnya siswa SD) dengan nilai-niali luhur yang terkandung
dalam Pancasila
Untuk itu
pendidik generasi muda perlu memahami
serta menerapkan perilaku yang patut dicontoh oleh murid, termasuk dalam
penerapan prinsip-prinsip dalam pembelajaran. Agar terciptanya kualitas
pemebelajaran yang baik. Dalam hal ini peningkatan kualitas belajar
mengajar merupakan suatu keniscayaan yang harus diwujudkan oleh guru.Kualitas
belajar mengajar yang baik akan mendorong tercapainya hasil belajar yang memadai
dan bermakna bagi siswa.
B.
Rumusan Masalah
- Bagaimanakah cara menerapkan nilai moral Pancasila sejak
usia dini ?
- Prinsip-prinsip
apa saja yang perlu diterapkan untuk meningkatkan kualitas belajar
mengajar ?
- Apa saja dasar pertimbangan penilaian dalam pembelajaran
?
C.
Tujuan
- Mengetahui serta menerapkan nilai dan moral Pancasila
sejak usia dini.
- Memahami serta menerapkan prinsip-prinsip dalam
pembelajaran.
- Mengetahui dasar-dasar pertimbangan penilaian dan
indikator hasil belajar.
BAB
II
Pembahasan
A.
Penanaman Nilai Moral Pancasila Sejak Dini
Menurut kajian Psikologi Umum, usia anak yang paling efektif dalam
melakukan pendidikan dan menanamkan karakter tertentu adalah usia enam sampai
sepuluh tahun atau setara dengan usia anak siswa Sekolah Dasar. Dalam rentan usia tersebut setiap pengalaman
dan kejadian-kejadian yang pernah dialaminya akan menentukan bagaimana
perkembangan si anak selanjutnya atau dapat dikataan usia tersebut adalah
fondasi bagi masa depan anak. Apabila fondasi yang ditanam pada si anak adalah
karakter-karater yang baik maka secara otomatis karakter-karater itu akan tetap
melekat dalam diri anak dalam setiap proses pendewasaanya.
Misalnya, sejak SD
seorang anak telah dilatih oleh gurunya untuk datang tepat waktu setiap akan
masuk kelas. Secara tidak langsung perintah
guru tersebut telah mendidik anak untuk bersikap disiplin dalam
mengawali setiap kegiatan tanpa menunda-nunda waktu. Nah, kebiasaan seperti ini
pasti akan selalu teringat dalam benak si anak dan selalu akan dijalankannya
karena sudah menjadi kebiasaan. Lalu bagaimana cara-cara yang efektif agar
seluruh nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila itu dapat ditanamkan dan
diamalkan oleh siswa Sekolah Dasar, sebagai awal pembentukan karakter mereka?
1. Melalui pelajaran,
Pendidikan Kewarganegaraan atau Pendidikan Pancasila
Melalui mata
pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan atau Pendidikan Pancasila diharapkan
peserta didik memperoleh pengetahuan tentang apa itu Pancasila, apa saja
nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila dan apa saja manfaat mengamalkan
nilai-nilai Pancasila,yang dalam penyampaiannya disesuaikan dengan kemampuan
mereka. Sehingga mereka tidak bingung dan mempunyai gambaran untuk
melaksanakannya.
2. Nasihat Guru kepada
murid
Kebanyakan orang
setelah mereka mendengarkan nasihat atau ceramah mereka akan memperoleh ilmu
dan pengetahuan baru atau koreksi-koreksi yang mungkin ia dapatkan karena
nasihat atau ceramah itu menyingung perbuatan-perbuatan tercela yang mungkin
pernah ia lakukan. Dengan nasihat orang yang dulu kurang baik bisa berubah
menjadi baik karena nasihat yang ia terima dari orang lain berupa saran-saran
untuk menjadi lebih baik. Begitu juga dengan anak usia SD, mereka dapat
dipengaruhi dengan nasihat-nasihat yang baik dan membangun dan sejalan dengan
nilai-nilai yang terkandung dalam tiap-tiap butir Pancasila guna memberikan
pedoman berperilaku dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan mereka dan dalam
penyampaian nasihat tersebut harus disesuaikan dengan kemampuan yang
dinasehati.
3. Memberikan contoh
sikap-sikap yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila
Seorang guru harus
berperilaku selakyaknya seorang pendidik yang berkepribadian baik, karena
setiap perilaku yang ia lakukan kemungkinan 95% akan dicontoh oleh muridnya.
Sebab disekolah tingkat Sekolah Dasar guru merupakan salah satu tokoh yang
sangat berpengaruh selain kedua orang tuanya. Siswa akan cenderung meniru dan
melaksanakan perkataan guru dariada orang tuannya. Semisal, orang tua menyuruh
anaknya untuk sikat gigi dua kali sehari, si anak pasti belum mau melakukannya
jika guru belum pernah mengajarkannya disekolah.
Dengan keadaan
yang demikian itu guru bisa dimanfaatkan untuk memberikan pendidikan
nilai-nilai Pancasila, misalnya :
· Guru datang kesekolah datang tepat waktu, agar siswa-siswanya
meniru kebiasaannya tersebut
· Guru selalu berkata
jujur kepada muridnya agar mereka juga memiliki sikap yang demikian itu
· Guru membiasakan
berjabat tangan bila bertemu orang lain baik sesama guru maupun dengan
muridnya, agar murid memiliki sikap sopan santun
· Guru membiasakan
berbicara lemah lembut dengan muridnya maupun dengan orang lain agar siswa
memiliki sikap hormat menghormati yang tinggi
· Dsb
4. Menanamkan sikap
disiplin terhadap siswa melauli berbagai cara
Sikap disiplin
sangat penting dalam melakukan berbagai aktifitas agar semua aktifitas bisa
berjalan dengan lancar dan tepat. Bayangkan saja jika semua manusia didunia ini
tidak memiliki sikap disiplin entah disiplin dalam lingkup kecil maupun
disiplin dalam lingkup besar. Contoh kecil saja, seseorang tidak bisa disiplin
terhadap waktu, tidak pernah datang tepat waktu apabila diundang dalam sebuah
acara otomatis acara itu akan berantakan karena tidak sesuai dengan rencana
yang telah dibuat.
Mengingat keadaan
yang demikian, sejak dini siswa SD harus dilatih disiplin agar kebiasaan
berdisiplin tersebut melekat pada dirinya dan diamalkan smapi ia dewasa nanti.
Misalnya siswa diarahkan untuk selalu tertib dalam berpakaian seragam,
bersepatu,berpennampilan rapi datang kesekolah tepat waktu dan sebagainya.
5. Melatih siswa untuk
rajin beribadah
Beribadah erat
kaitannya dengan kepercayaan dan agama masing-masing siswa karena setiap siswa
memiliki latar belakang agama yang berbeda. Berhubungan dengan nilai-nilai
Ketuhanan yang terdapat dalam sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.
Dimana nilai-nilai Ketuhanan ini menjadi fondasi dasar manusia dalam
menjalankan kehidupannya, sehingga setiap siswa harus benar-benar menjiwai
nilai Ketuhanan ini. Untuk itu siswa dapat dilatih dan diarahak agar selalu
rajin dalam menjalankan ibadah dalam agam mereka masing-masing dengan cara-cara
yang sederhana dan menarik. Misalnya, diadakan Jumatan disekolah, mengaji
bersama, pesantren kilat, diadakan kajian rutin oleh guru agama masing-masing,
melakukan solat berjamaah disekolah dan masih banyak cara-cara yang dapat
dilakukan untuk membina siswa dalam melakukan ibadah.
Tidak lepas dari
itu semua, siswa juga diarahkan untuk selalu melihat alam semesta yang luas ini
dan bersama-sama mendiskusikan bagaimana bisa alam semesta ini terjadi dan
kejadian-kejadian alam yang menarik didiskusikan agar mereka percaya akan
keberadaan Tuhan Sang Pencipta alam semesta.
6. Siswa diajak dan
dilatih untuk menbudayakan 3S
Dengan
membudayakan 3S (Senyum, Salam, Sapa) kepada siswa dan sesama guru maka akan
tercipta suasana yang nyaman dan kondusif. Secara tidak langsung dengan budaya
3S ini siswa bersama guru belajar saling menghormati dan dan bersama-sama
mengamalkan nilai-nilai Pancasila terutama nilai Kemanisiaan.
Sekarang ini banyak
pelajar-pelajar dan generasi muda yang moralnya rusak karena berbagai hal yang
mempengaruhi mereka mulai dari teman bergaul, media elektronik yang semain
canggih, narkoba, minuman keras, dan hal-hal negatif lain yang dapat
mempengaruhi mereka. Mereka juga gemar melakukan tindak-tindak kriminal,
apalagi yang namanya, seakan-akan itu sudah menjadi kebudayaan bagi pelajar
Indonesia. Keadaan yang demikian itu sangat memprihatinkan dan perlu perhatian
khusus karena mereka adalah generasi penerus bangsa yang akan meneruskan
perjuangan-perjuangan generasi tua membangun bangsa Indonesia ini. Tapi apa
jadinya jika sebelum tiba waktu mereka untuk turut serta dalam pembangunan
bangsa ini, akhlak dan moral mereka sudah bobrok dan rusak. Mungkinkah
Indonesia kita akan maju jika generasi penerusnya tak bermoral? Tentu tidak.
Untuk itu perlu pembenahan-pembenahan agar denerasi penerus yang mendatang memiliki
akhlak dan moral yang baik.
Siswa Sekolah Dasar merupakan cikal bakal tumbuhnaya
generasi-generasi untuk masa mendatang. Untuk itu agar menjadi generasi penerus
bangsa yang bermoral dan berakhlak baik perlu dilakukan pendidikan yang
benar-benar matang dan serius, jika perlu proses pendidikan dialkukan oleh para
sarjana yang ber kompeten.
Untuk membentuk generasi bangsa yang bermoral dan berkualitas
tentunya memerlukan beberapa proses dalam penciptaanya. Salah satunya dengan
membekali peserta didik (khususnya siswa SD) dengan nilai-niali luhur yang
terkandung dalam Pancasila sebab Pancasila merupakan Dasar Negara dan Pandangan
Hidup Bangsa dalam menjalankan kehidupannya. Para siswa harus memahami,
memaknai dan mengamalkan keseluruhan nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila
karena nilai-nilai itu dapat menjadi fondasi dan benteng bagi mereka dari
berbagai pengaruh yang dapat merusak moral mereka.
Nilai-nilai Pancasila
juga mampu berperan dalam pembentukan karakter anak usia SD karena didalam
Pancasila sendiri terdapat nilai-nilai yang mudah dipahami dan diamalkan pada
anak usia SD. Misalnya nilai kerakyatan/Demokrasi, ini dapat dilakukan siswa
dengan maju kedepan kelas untuk mengutarakn
jawaban atas tugas yang telah diberikan guru. Apabila keseluruhan
nilai-nilai Pancasila itu bisa dilaksanakan dengan baik maka secara bertahap
kepribadian dan karakter anak akan terbentuk seiring dengan berjalannya waktu.
B.
Prinsip-prinsip Pkn SD
Pembelajaran pada dasarnya merupakan kegiatan guru atau
dosen dalam menciptakan suasana atau situasi siswa belajar.Tujuan utama
pembelajaran adalah agar siswa belajar.Sukmadinata (2007) mengatakan bahwa
belajar merupakan proses mental yang dinyatakan dalam berbagai perilaku,baik
perilaku fisik-motorik maupun psikis.Meskipun suatu kegiatan belajar merupakan
kegiatan fisik-motorik (keterampilan),tetapi didalamnya terdapat kegiatan
mental, namun kegiatan pisik-motoriknya lebih banyak dibandingkan dengan proses
mentalnya.Pada kegiatan belajar yang bersifat psikis, seperti belajar
intelektual, sosial-emosi, sikap, perasaan, nilai, segi fisik-motoriknya
sedikit, sedangkan segi psikis atau mentalnya lebih banyak.Aspek-aspek
perkembangan tersebut, biasa dibeda-bedakan tetapi tidak bisa dipisah-pisahkan
secara jelas.Suatu aspek selalu ada kaitannya dengan aspek yang lainnya.
Peningkatan
kualitas belajar mengajar merupakan suatu keniscayaan yang harus diwujudkan
oleh guru.Kualitas belajar mengajar yang baik akan mendorong tercapainya hasil
belajar yang memadai dan bermakna bagi siswa. Dalam konteks ini perlu diketahui
dan dipahami oleh guru adanya sejumlah prinsip pembelajaran yaitu (a) perhatian
dan motivasi; (b) keaktifan; (c) keterlibatan langsung; (d) pengulangan; (e)
tantangan; (f) balikan dan penguatan, dan (g) perbedaan individual.
Prinsip perhatian dan motivasi
Perhatian,
dalam konteks pembelajaran memiliki peranan yang sangat penting sebagai langkah
awal dalam memicu aktifitas-aktifitas belajar. Sedangkan motivasi berhubungan
erat dengan minat. Motivasi dalam belajar merupakan hal yang sangat penting
dalam pelaksanaan model pembelajaran. Motivasi belajar akan timbul lebih tinggi
manakala siswa memiliki perhatian yang tinggi dalam kegiatan belajar.
Sebaliknya motivasi siswa akan rendah manakala siswa kurang memiliki perhatian
dalam kegiatan belajar.
Prinsip keaktifan
Belajar
pada hakekatnya adalah proses aktif dimana seseorang melakukan kegiatan secara
sadar untuk mengubah suatu perilaku, terjadi kegiatan merespon terhadap setiap
pembelajaran.
Prinsip keterlibatan langsung
Setiap
individu harus terlibat langsung untuk mengalaminya,bahwa setiap kegiatan
belajar harus melibatkan diri setiap individu
Prinsip Tantangan
Pembelejaran
harus memberikan kesempatan yang luas bagi siswa untuk mencari dan menemukan
konsep, teori, generalisasi, serta dalil dalam kegiatan pembelajaran. Dengan
akses seperti itu, siswa akan tertantang untuk menemukan konsep, teori,
generalisasi, dan dalil-dalil tersebut.
Prinsip balikan
Siswa
akan belajar lebih semangat dan giat jika mengetahui dan mendapatkan hasil yang
baik. Hasil belajar yang baik, tentu saja bagi siswa merupakan balikan yang
menyenangkan sehingga akan semakin menopang semangat belajar siswa.
Prinsip perbedaan individual
Setiap
individu memiliki perbedaan baik secara psikis maupun fisik-motorik, karena
penting bagi guru untuk memahami perbedaan-perbedaan tersebut.
C.
Dasar
Pertimbangan
Pertimbangan
atau judging adalah proses menilai dan mempertimbangkan yang tidak lepas dari
nalar ( reasoning).
Penilaian
adalah suatu kegiatan untuk mengetahui hasi belajar peserta didik dan
mengetahui keberhasilan peserta didik dalam proses pembelajaran. Menurut Davies
(1981), pengertian penilaian mengacu pada proses yang menetapkan nilai kepada
sejumlah tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk-kerja, proses, orang dan objek.
Suatu proses pengukuran dalam kegiatan pembelajaran dapat melalui proses
membandingkan dengan kriteria yang telah ditentukan oleh guru. Penilaian dalam
pembelajaran merupakan pembuatan keputusan nilai keberhasilan didalam suatu
pembelajaran melalui pembandingan dengan ketentuan yang berlaku. Penilaian juga
merupakan suatu pengukuran keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar.
Karena suatu keberhasilan peserta didik juga merupakan keberhasilan guru dalam
mentransfer ilmu dengan melalui proses pembelajaran yang didalamnya terdapat
ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam proses penilaian antar individu maupun
kelompok.
Dalam
pedoman penilaian Depdikbud (1994), menyatakan bahwa tujuan penilaian adalah
untuk mengetahui kemajuan belajar siswa, untuk perbaikan dan peningkatan
kegiatan belajar siswa serta sekaligus memberikan umpan balik bagi perbaikan
pelaksanaan kegiatan belajar. Dengan mengetahui kemajuan belajar peserta didik
dengan cara melakukan perbandingan melalui ketentuan-ketentuan, maka kemampuan individu peserta didik dapat
terukur dan guru dapat mengetahui titik kelemahan dan kelebiahan peserta didik
dalam proses pembelajaran. Sehingga dapat memberikan pengajaran dan remidiasi
untuk memenuhi kebutuhan perseta didik sesuai dengan kemajuan dan kemampuannya.
Indikator hasil belajar
Indikator
hasil belajar merupakan tolok ukur keberhasilan atau tujuan apa yang akan
dicapai dalam suatu pembelajaran. Untuk mengetahui apakah pembelajaran yang
diberikan kepada siswa berhasil, terlebih dahulu ditetapkan kriteria
keberhasilan pengajaran. Mengingat pengajaran merupakan suatu proses untuk
mencapai tujuan yang telah dirumuskan, maka disini dapat ditentukan dua
kriteria yang bersifat umum. Menurut Sudjana (2004) kedua kriteria tersebut
adalah:
1. Kriteria ditinjau dari sudut prosesnya
Kriteria
ditinjau dari prosesnya menelkankan kepada pengajaran sebagai suatu proses yang
merupakan interaksi dinamis sehingga siswa sebagai subjek mampu mengembangkkan
potensinya dengan belajar sendiri.
2. Kriteria ditinjau dari hasilnya
Disamping
tinjauan dari segi proses, keberhasilan pengajaran dapat dilihat dari segi
hasil.
Pengembangan penilaian hasil
belajar PKn SD
Dalam
sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler
maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Bloom
,yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah yakni ranah kognitif,
ranah afektif, dan ranah psikomotorik.
Ranah
kognitif berkenaan denga hasil belajar intelektual yang tediri dari enam aspek,
yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan
evaluasi.
Ranah
afektif berkenaan sikap yang terdiri dari lima aspek , yakni penerimaan,
jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi.
Ranah
psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan
bertindak. Terdapat enam aspek ranah psikomotoris, yakni: gerakan reflex,
keterampilan gerakan dasar, kemampuan
perseptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan komplek dan
gerakan ekspresif.
BAB III
Penutup
A.
Kesimpulan
Penanaman dan penerapan nilai-nilai
Pancasila pada usia dini (khususnya siswa SD) sangat penting dan diperlukan
dalam membentuk kepribadian generasi bangsa yang berkarakter dan bermoral serta
mampu bersaing dalam segala bidang
Selain itu kualitas belajar
mengajar yang baik akan mendorong tercapainya hasil belajar yang memadai dan
memakna bagi siswa. Dalam konteks inilah perlu diketahui dan dipahami oleh guru
adanya sejumlah prinsip pembelajaran yaitu perhatian dan motivasi, keaktifan,
keterlibatan langsung, pengulangan, tantangan, balikan , penguatan, dan perbedaan individu serta menggunakan pertimbangan-pertimbangan dalam
penilaian.
B. Saran
- Sebagai calon pendidik di Sekolah Dasar yang akan
mencetak generasi-generasi baru sebaiknya kita senantiasa memahami dan
mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
- Berikan contoh yang baik, sikap yang mencerminan
nilai-nilai Pancasila kepada teman-teman maupun siswa bila kelak sudah menjadi
seorang guru.
Daftar Pustaka
Imasmaesaroh (2010). Pendekatan dan metode model
pembelajaran pkn sd. From http://imasmaesaroh.blogspot.com
Yoko (2012). Penerapan nilai-nilai pancasila pada
siswa sekolah dasar. "http://ichbinyokko.blogspot.com
mardani Kusuma (2011).Pendidikan anak usia dini.
Yogyakarta : stimik aikom.
Dwi Siswoyo dkk. 2005. Metode Pengembangan Moral
Anak Prasekolah. Yogyakarta: FIP UNY.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar